Tentang Menjadi Dewasa

** Originally posted on June 19, 2015

“Menurut psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karier, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.” – Diambil dari Wikipedia.

 

Akhir-akhir ini, gue dan beberapa teman sedang rutin membicarakan masalah kepribadian dan kedewasaan. Bukan sok pintar atau sok bijak atau bahkan sok dewasa. Kami hanya mempertanyakan apa yang dimaksud dengan dewasa. Kenapa dipertanyakan? Sebab, kami melihat banyak contoh bahwa bertambah usia atau bertambah tua belum tentu diiringi dengan bertambahnya kedewasaan. 

Tapi apa sih faktor yang bisa dipakai untuk mengukur kedewasaan? Semua orang pasti merasa mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut gue kedewasaan tidak bisa diukur sendiri. Dewasa atau tidaknya kita, yang menilai adalah orang lain. Kesannya judgemental sekali ya? Tapi emang hidup sebagai manusia sosial seperti itu. 

Yang pasti adalah, sebagai manusia sosial, pasti akan terasa lebih menyenangkan kalau kita dikelilingi oleh energi yang positif. Tenang di hati dan di pikiran. Pasti capek kan kalau ketemu orang yang marah, sinis atau ngeluh melulu, dan sebagainya. Ya bok, ketemu jalanan macet aja udah capek apalagi kalau masih harus menghadapi energi negatif kayak gitu. 

Jadi gimana menghadapinya? Ya ubahlah dari diri lo sendiri. Kita bisa memulainya dengan menganulir energi-energi negatif itu dari hidup kita. Kita bisa pilih, mana yang mau kita dengar – baca – lihat – ikuti. Misalnya, banyak yang marah-marah di timeline media sosial lo? Ya cukup scroll aja terus, nggak usah dibaca. Kalau mau yang lebih ekstrim ya unshare media sosialnya. Nggak enak takut orangnya marah? Lebih nggak enak mana kalau dibandingkan dengan kita yang jadi ikutan bad mood gegara energi negatif, hayo? Nggak perlu ikut kepancing emosi. Bisa menjaga emosi dengan baik, menurut gue adalah salah satu ciri menuju dewasa.

Pada akhirnya, gue dan teman-teman setuju bahwa sekarang ini yang penting adalah ketenangan, di hati dan pikiran. Sehingga hidup jadi lebih bahagia. Gue percaya kedewasaan berkaitan dengan kebahagiaan. Berusaha untuk berpikir positif di dalam hidup, berniat baik dan berusaha dengan baik karena segala sesuatu yang awalnya baik, pasti akan mendatangkan kebaikan. Nggak cuma buat diri sendiri, tapi juga mungkin buat pihak lain. Belajar untuk ikhlas menghargai apa yang dimiliki, sekecil apa pun itu dan belajar untuk menghargai orang lain.

Tapi tetap saja dewasa itu sangat luas maknanya. Setiap pribadi pasti punya pendapatnya sendiri. Hal ini terbukti dari pendapat beberapa orang teman gue mengenai kedewasaan:

“Dewasa kalau menurut aku adalah kita sadar & bertanggung jawab penuh atas segala pilihan yang sudah kita ambil. Bertanggung jawab disini tentu termasuk juga menerima segala konsekuensi yang timbul akibat pilihan kita – seandainya pilihan yang diambil berlawanan dengan norma umum yang berlaku.” – Marina”Dewasa itu….ketika kita bisa memahami kondisi sekitar atau orang lain tanpa terbawa ego pribadi.” – Karina

“Dewasa menurutku adalah: kaos dan celana pendek, flatshoes, make up yang tidak terlalu tebal (namun dengan alis yang tetap stand by, pastinya :)) ), karena itulah ketika dunia terasa lebih ringan dan kita sudah bisa lebih ‘legowo’ untuk menerima dan bersyukur terhadap apa yang kita punya dan alami juga meyakini bahwa everything happens for a reason yang pastinya membuat kita belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.” – Anita

“Dewasa itu….mau dan mampu bertanggung jawab, menerima segala konsekuensi dr sekecil apapun tindakan yang kita lakukan, baik itu positif ataupun negatif. Dewasa itu…bisa mengatur reaksi yang keluar atas aksi orang lain terhadap kita. Perlu atau nggaknya, seberapa besar dampaknya, lebih banyak manfaatnya apa mudharatnya.” – Gandes”Dewasa menurut gue ngga tergantung umur, ngga selamanya yang udah tua bisa dewasa. Selama orang tersebut punya pikiran yang matang, selalu berpikir sebelum bertindak, ngga emosian, bisa nempatin dirinya, terbuka dengan kritik dan masukan orang lain dan selalu bijak menyikapi berbagai keadaan. Selain itu, gue selalu melihat orang dewasa itu selalu tau apa yang dia mau untuk masa depannya, dan dia tau gimana cara mencapai tujuannya itu, bisa tegas dan punya sikap alias ngga labil lagi.” – Septi

“Dewasa itu gak cukup dilihat dari seberapa mampu kita mengambil keputusan sendiri, tapi juga seberapa siap kita menerima segala konsekuensi, baik maupun buruknya, dari setiap keputusan tersebut.” – Inayah

“Dewasa adalah kondisi di mana ketika kita tersakiti oleh orang lain dan kita lebih memilih untuk memahami/memaklumi kondisi orang tersebut—kenapa dia jahat, kenapa dia tega, kenapa dia nyakitin, etc.—ketimbang sibuk mikir strategi balas dendam untuk menyakiti mereka balik. This sounds unbelievably bullshit, but that is the thing about maturity; you are letting yourself to lose—to actually win.” – Tiara

“Dewasa itu saat kita udah bisa kalahin ego dalam diri sendiri, in any terms. 

Di saat kita udh cukup dapet pelajaran buat punya yg namanya ikhlas.” – Lulu

“Dewasa adalah menerima menjalani hidup dengan ikhlas dan tawakkal.” – Novi

“Dewasa itu menurut aku konsisten. Konsisten sama karier, konsisten sama janji, konsisten sama ide-ide, konsisten dengan kebutuhan hidup, konsisten dengan kata-katanya, konsisten meluangkan waktu buat keluarga, konsisten liburan minimal setaun sekali, konsisten nabung, dll. Intinya konsisten untuk terus lebih baik dan lebih baik lagi. Kalau konsisten jeleknya ya bukan dewasa berarti. Karena untuk mempertahankan ke-konsisten-an itu menurut aku susah, dan orang dewasa pasti dituntut untuk konsisten dalam beberapa aspek hidupnya.” – Kattleya

“Dewasa itu tau dan mau/bisa bertanggung jawab atas sesuatu yang menjadi pilihannya.’ – Rizka

“Dewasa menurut gue, bertanggung jawab atas semua sikap, tindakan dan perilaku kita terhadap tuhan, diri kita dan orang lain.” – Eka

Jadi apa arti dewasa menurutmu? 🙂

(Visited 50 times, 1 visits today)
 
Share it:
Posted in Uncategorized and tagged .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *