The Preparation of Good Food Is Another Expression of Art

** Originally posted on April 25, 2013

Sebagai cewek yang udah dicemplungin ke dapur sejak kelas 5 SD, bisa dibilang gue agak rewel kalau urusan masak. Oke, almarhum Papa bisa dibilang salah satu koki terbaik yang gue pernah icip masakannya. Beliau juga yang memaksa gue untuk udah bisa masak sejak SD. Awalnya karena di kegiatan pramuka sekolah gue ada lomba memasak. Lalu pas gue cerita ke Papa, beliau komentar: Papa kasih resepnya, kamu praktek masak sekarang lalu nanti pas lomba harus jadi juara 1!”

Mampus nggak tuh ultimatumnya.

Sutralah gue praktek hari itu juga mulai dari nyiapain bumbu-bersihin bahannya-ngolah bumbu-masak-beresin dapur, dengan Eyangti sebagai pengawas. Pas jadi, diicip….ternyata enak kata beliau.  Latihan praktek masak hari Selasa atau Rabu (lupa, pokoknya awal-awal minggu) dan lombanya Sabtu. You know what….dari praktek hari pertama sampai lomba tiap hari gue disuruh latihan masak menu yang sama oleh Papa. Nasi, ayam goreng, sop sayuran, tahu, tempe, dan sambal. Bosen deh tuh orang rumah dimasakin itu terus.

Tapi yaaaa, ternyata pas lomba beneran gue jadi juara 1. Masakannya dipuji guru-guru dan kakak Pembina Pramuka. Dimakan ramai-ramai oleh mereka dan teman-teman gue yang lain. Sementara guenya…….jajan mie ayam di depan sekolah karena bosen makan menu yang sama dari kemarin di rumah. Hahahahaha…

Practice makes perfect….seiring berjalannya waktu ya sekarang udah bisa masak macem-macemlah. Kalau Lebaran gue sukses masak sendirian itu opor ayam, sambal goreng krecek, rendang, sayur labu buat menjamu keluarga kebesaran yang seubrek-ubrek kumpul di rumah Eyangti. Ya berhubung emang senang masak jadi hepi-hepi aja ngejalaninnya. Tapi ada satu kelemahan gue…yaitu masak kue. Bok sutralah mending gue keringetan ngaduk kuah di depan wajan gede daripada pusing ngitung berapa takaran terigu, gula, dan lain-lain printilannya itu supaya jadi kue yang centil-centil. Makanya kalau hari raya di rumah Eyangti mah ya, udah bisa dipastiin kue-kuenya pasti hasil beli jadi atau kiriman dari orang lain. Angkat tangan gue mah urusan kue-kue.

Nah, karena kenal masak dari kecil…bisa dibilang gue jadi rewel kalau masak. Eyangti dan Papa juga ngajarin gue bahwa masakan itu harus cantik dan bersih bahannya. Mau bikin sop yang ada wortelnya…ya lo bersihin deh tuh wortel yang bener. Mau masak buncis, bersihin tuh serabutnya yang ada di sisi kanan-kiri. Pokoknya yang printilan-printilan gitu juga mesti rapi, jangan asal enak aja. Kalau tampilannya cantik, yang makan pasti senang menyantapnya khan…apalagi kalau rasanya enak. Makanya gue senang kalau ke restoran atau rumah makan yang berhasil menampilkan visual yang cantik buat masakannya.

Kenapa gue rewel jam segini ngurusin beginian? Soalnya gue tadi bangun kesiangan, yang berarti nggak sempat masak buat bekal padahal bahan udah siap di kulkas. Sutralah akhirnya cuma bawa bekal nasi merah aja dan lauknya mau beli di rumah makan dekat kantor. Terus tadi sampai kantor, mampir bentar di rumah makan (rumah makan lho ya, bukan warteg pinggir jalan, yang berarti harganya di atas warteg dan gue berharap penampilan masakannya lebih oke dan bersih). Mau beli sayur buncisnya…belum mateng. Buncisnya masih dipotong-potong sama yang masak. Lho…lho…tapi gue perhatiin kok masih ada serabutnya kleweran di sisi kanan dan kiri buncis? Oke langsung ilfil. Terus mau beli sop wortel…lho kok wortelnya nggak bersih? Akhirnya beli yang aman aja…tahu dan tempe goreng.

Lalu balik ke kantor walau sebenarnya hasrat pengen ikutan masuk dapurnya terus bantuin Ibu yang punya rumah makan untuk duduk bersihin sayurannya dengan baik sebelum dimasak.

*brb pasang celemek* 

Btw, ini nggak ada yang butuh pendamping hidup jago masak apa ya? Bersihin sayuran juga hobi, apalagi bersihin kenangan lama urusan asmara dan menutupnya dengan lembaran baru. #halah

: ))))))))

(Visited 8 times, 1 visits today)
 
Share it:
Posted in culinary, Family and tagged .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *