Weekend Ambisius: Part 3

** Originally posted on September 10, 2013
Hwokeeeeehhhh…kembali lagi ke misi weekend ambisius. Untuk weekend kemarin semuanya berkaitan dengan makanan. Secara gue emang ahlinya memamah biak dan rela blusukan ke daerah mana aja demi makanan enak, maka terwujudlah keinginan untuk makan terus selama weekend! *dipelototin dokter*
Sabtu, 7 September 2013
Dari dulu gue pengen banget kulineran ke daerah Petak Sembilan, seputar Glodok. Tapi ya belum kesampaian aja. Beberapa kali pernah bikin rencana yang berujung pada wacana aja, batal melulu. Jadilah gue dan Septi, akhirnya sepakat untuk keluyuran berdua di wilayah ini hari Sabtu kemarin. Berbekal dengan semangat juang tinggi menuju medan penuh makanan, kami janjian jam 9 pagi udah ketemu di halte TransJakarta Glodok. Sengaja milih pagi, secara kami juga naik angkutan umum dan keadaan jalanan Jakarta kadang saat weekend lebih macet.
 
Mungkin banyak yang bingung dimana tepatnya letak Gang Gloria ini di wilayah Glodok? Ini gue bantu rutenya kalau jalan kaki dari Halte TransJakarta Glodok ya. Jalan lurus ke arah Pasar Glodok, sampai ketemu Jl. Pancoran di sebelah kiri. Belok ke jalan itu, lalu jalan terus sekitar 100-150 meter nanti kalian akan ketemu Gang Gloria di sebelah kanan jalan. Sebenarnya Gang Gloria ini bernama Jl. Pintu Besar Selatan 3. Kalau kalian bingung, cukup tanya dimana letak Gang Gloria ke salah satu pedagang yang di pinggir jalan, pasti akan ditunjukkan arahnya oleh mereka.
Deretan toko obat di Jl. Pancoran
Penjual kue kering di samping Gang Gloria
Ujung Gang Gloria tampak depan

Penjual pioh (daging penyu) di sisi kiri dan nasi tim bebek/ayam di sisi kanan

Penjual kue bulan

 

Umumnya para pedagang makanan di Gang Gloria ini buka dari jam 7 pagi sampai sekitar jam 3 sore. Jadi jangan sampai salah waktunya ya. Lalu untuk yang muslim selalu tanya terlebih dahulu bahan yang digunakan, ya nama pun daerah Pecinan tentu akan banyak dijumpai makanan dengan bahan babi khan. Berikut adalah urutan makan gue dan Septi di Gang Gloria:

 
1. Kopi Es Tak Kie
Letaknya ada di tengah Gang Gloria. Awalnya Kopi Taki Kie dijual oleh Liong Kwie Tjong dengan sistem gerobak yang bisa didorong keliling Glodok. Lalu  oleh generasi kedua, dibangunlah kedai ini di Gang Gloria pada tahun1927. Pemilik yang sekarang, A Yau adalah generasi ketiga dari keluarga Liong. Begitu masuk, nuansa sederhana dan tempo dulu langsung terasa banget. Bagian depan  kedai terisi beberapa etalase untuk menyiapkan makanan seperti nasi tim, bubur, dan bakmi. Hanya ada deretan meja dan kursi sederhana yang saat kami datang hampir semuanya terisi penuh. Di dindingnya ada beberapa foto perjalanan Kedai Kopi Tak Kie. Di tengah ruangan adalah meja kasir yang dijaga langsung oleh A Yau. Pengunjung yang datang sebagian besar adalah pelanggan tetap kedai ini. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang mengobrol akrab dengan A Yau dan beberapa karyawan.
 
Berhubung udah lapar, langsung deh pesan Es Kopi dan Nasi Tim Ayam untuk dimakan berdua. Kenapa pesannya cuma 1 dan dimakan berdua? Ya boook, kita khan ceritanya mau makan banyak banget seharian. Kalau makanannya nggak dishare, yang ada baru setengah hari udah kekenyangan dan bubar jalan deh. Es Kopinya enak banget, segar dan nggak terlalu “berat” aroma dan rasanya buat gue. Ini adalah kopi pertama yang gue minum lagi setelah hampir 3 tahun. Sementara untuk Nasi Tim Ayamnya, gue suka banget karena bumbu ayamnya yang nyampur ke nasi enaaaakkkk banget. Rasa manisnya nggak terlalu kental dan masih ada rasa gurih yang nikmat. Gue lebih suka makan tanpa kuah kaldu yang disediakan. Kuahnya sendiri kurang berkesan buat gue. Terasa hambar dan pas gue campur ke nasi tim, kok malah bikin nasi timnya ikut terasa hambar. Total yang dibayar di Kedai Kopi Es Tak Kie untuk 1 nasi tim dan 1 es kopi adalah Rp 33.000,- (lupa nanya berapa masing-masing harganya).

 

Es kopi
Nasi tim ayam

Setelah dari Tak Kie, kita jalan lurus terus semakin masuk menyusuri Gang Gloria. Sampai akhirnya ketemu Kari Lam yang ada di depannya Toko Kawi. Lokasi Kari Lam sendiri lebih menyerupai semacam food courtkecil dengan beberapa penjual makanan lainnya yang berjejer. Selain Kari Lam ada penjual mie kangkung, rujak juhi, dendeng babi, pempek, cakwe dan lain-lainnya. Berhubung masih pagi, jadi suasananya masih sepi. Hanya ada gue dan Septi serta sekelompok kakek yang mengobrol dengan menggunakan Bahasa Mandarin. Di Kari Lam, terdapat Kari Ayam dan Kari Sapi. Untuk pendampingnya bisa pesan nasi atau bihun. Ya berhubung kita abis makan nasi sebelumnya, jadi kita pesan Bihun Kari Ayam seporsi buat berdua.

2. Kari Lam
  
Bihun kari ayam Rp 30.000,-
Surprisingly, porsinya besar dan daging ayamnya banyak banget plus tebal-tebal empuk (mereka pakai ayam kampung). Potongan kentangnya juga tebal. Yang dahsyat adalah kuah karinya. Kalau dulu gue terpesona sama kari bebek di PIK, maka kali ini gue klepek-klepek sama Kari Ayam Lam. Kuah karinya nggak terlalu kental, kaya rasa dan bumbu rempahnya cukup kuat. Tapi di saat yang bersamaan juga “ringan” di mulut dan setelahnya nggak bikin mual. Maka dengan ini Kari Lam gue nobatkan sebagai yang terenak yang pernah gue makan! Hahahaha…
 
3. Cakwe dan Kue Bantal
Letaknya persis di sebelah Kari Lam. Ini sebenarnya juga beli nggak sengaja. Berhubung mulut rasanya gatel pengen ngemil sambil nunggu bihun kari kami jadi, ya akhirnya belilah Cakwe dan Kue Bantal. Harga satuannya Rp 2.000,-. Kami sih nggak berharap banyak ya pas beli ini, lha wong namanya juga iseng. Ternyataaaaa….enak banget! Cakwenya garing tapi bagian dalamnya bisa tetap nyessss, Septi bilang Kue Bantalnya juga enak dan lembut, nggak terlalu manis. Nah, sambal cukanya juga pas rasanya nggak terlalu asem dan pedasnya terasa. Kami sampai nambah dan bungkus bawa pulang saking ketagihannya. Ini adalah cakwe terenak yang pernah gue makan. Kalah deh itu cakwe di Bendungan Hilir yang jadi kegemaran banyak orang. Kalau udah pada coba cakwe ini pasti langsung kesengsem sama rasanya! Bahkan pas malamnya gue makan ini di rumah, rasanya pun masih enak.

Cakwe dan kue bantal @ Rp 2.000,-

Penjual dendeng babi dan babi panggang di food court

Mie kangkung, konon enak!

Toko Kawi, spesialis ham Bali

 

4. Otak-otak Bakar Ny. Santoso

Abis makan bihun kari, kami sempat bingung khan mau makan apa. Sempet pengen Soto Betawi Afung yang konon enak banget. Tapi kok berat ya kayaknya, takut jatah di perut penuh ntar nggak bisa makan yang lainnya. Akhirnya pilihan bergeser ke Otak-Otak Bakar Ny. Santoso di sebelah Soto Betawi Afung. Bisa pesan 1 porsi (10 potong) atau setengah porsi (5 potong). Ini adalah otak-otak termahal yang pernah gue makan. Setelah pesan, sempat ngebatin, “Set dah, mahal amat. Awas aja kalau nggak enak!”

 

Otak-otak Ny, Santoso @ Rp 7.000,-
Otak-otak dibakar berdasarkan pesanan, jadi pas datang ke meja masih dalam kondisi hangat. Rasanya……….enak! Langsung nyesel abis ngebatin kayak gitu tadi, karena ternyata enak. Kenyal tapi gampang dikunyah dan rasa ikannya terasa banget. Nggak ada after taste amis di mulut berkat perpaduan sambal kacangnya yang pedas. Ketahuan deh bedanya dengan otak-otak abang-abang keliling yang kenyalnya akibat kebanyakan tepung.
 
5. Bakso Goreng dan Pangsit Goreng Mie Hosan
Ini juga termasuk nggak sengaja. Tadinya udah mau jalan ke Mangga Dua, pas mau keluar Gang Gloria ngelewatin Mie Hosan ini di ujungnya. Langsung kepincut sama Bakso Gorengnya yang besar-besar kayak bola tenis. Pangsit Gorengnya juga lebar-lebar banget. Akhirnya ya melipir kesini untuk makan. Kalau pesan bakso goreng dan pangsit goreng tanpa mie, tadinya hanya dikasih itu aja. Tapi gue minta pakai kuah semangkok. Ya malih makan bakso goreng sebesar itu mah seret kalau nggak pakai kuah khan. Bakso Gorengnya enaaaaak, untuk Pangsit Gorengnya sih biasa aja. Kuahnya gurih dan sambelnya pedas banget. Itu kuah gue seruput sampai tetes terakhir berujung megap-megap kepedesan. Disini dia juga jual mie babi, mie ayam, nasi tim, sosis babi, babi panggang.

 

Bakso goreng dan pangsit goreng @ Rp 5.000,-

 

Puas dan kenyang blusukan di Gang Gloria, maka selanjutnya lanjut lagi ke arah Mangga Dua. Jalan kaki dari Gang Gloria sampai hampir ke lampu merah perempatan Stasiun Kota, lalu lanjut naik angkot ke ITC Mangga Dua. Begitu sampai di ITC Mangga Dua, langsung menuju Kantin Jason di lantai 4. Ketemu sih, tapi berhubung lagi jam makan siang jadi ramai banget. Setelah rundingan akhirnya sepakat buat minum dingin-dingin dulu. Jadilah kita meluncur ke Kantin SY.
 
6. Es jelly dan Soto Mie Kantin SY
Awalnya kita cuma mau minum Es Jelly aja, tapi kok tergoda sama makanannya juga ya? Ya sutralah akhirnya pesan soto mie juga. Es Jellynya enak banget. Ini isinya es, susu, sirup, dan jelly dalam potongan kotak kecil-kecil. Segar banget, apalagi sebelumnya abis panas-panasan khan. Untuk Soto Mie, lumpianya enak dan masih garing walau udah disiram kuah panas. Sayangnya dagingnya kecil-kecil dan nggak pakai emping, jadi kurang mantep buat gue. Di Kantin SY ini juga ada sate babi, kue singkong kukus siram susu (ini laris banget, tapi gue nggak pesan abis kayaknya terlalu manis), bakwan udang, dan sebagainya. Sama kayak Kantin Jason, ini juga penuh banget. Untungnya pas kita dateng langsung dapat tempat duduk, sementara setelah itu beberapa orang harus sabar nunggu.

 

 

Soto mie Rp 20.000,-
Es jelly Rp 12.000,-

7. Pempek Depot Diva

Letaknya di lantai 5 dekat eskalator (seberangnya toko tas Mayonette). Ini juga nggak sengaja makannya. Berhubung abis dari Kantin SY ragu-ragu jadi mau makan di Kantin Jason atau nggak. Akhirnya batal karena kenyang dan milih buat window shopping aja keliling lantai 5. Abis itu terus capek dan duduk di bangku yang disediain di lorong lantai 5. Pas lagi ngobrol, kok terusik juga sama antrian di Depot Diva yang nggak habis-habis. Akhirnya kita pesan Pempek Kapal Selam, secara ini yang paling banyak dipesan sama orang-orang. Ini adalah pempek dengan kuning telur terenak yang pernah gue makan. Biasanya kalau makan pempek kapal selam, kuning telurnya pasti jadi keras dan padat gitu. Tapi di Depot Diva ini nggak, walau bagian luar pempeknya digoreng garing sesuai pesanan gue. Kuning telurnya tetap lembut kayak di telur rebus yang baru matang gitu. Sayangnya sambalnya nggak terasa pedas buat gue.

Pempek kapal selam Rp 18.000,-

Huwooooh dan petualangan kuliner di hari Sabtu ini pun berujung pada Depot Diva. Abis dari Mangga Dua kita lanjut ke Plaza Indonesia. Ngadem sekalian nemenin Septi cari kado buat pacarnya. Hihihi, senang dan puaaaas banget akhirnya bisa terwujudkan! Total yang gue habiskan untuk ongkos transportasi dan makan sebanyak gini (yang semuanya seporsi berdua) habisnya sekitar Rp 98.500,-. Iiiiissssh, tentu makin bahagia karena segitu banyak makanan habisnya nggak mahal-mahal amat.
Partner kulineran terpercaya sejak dulu

 

Minggu, 8 September 2013

Paginya lari sama Nita dari rumah – Bunderan Hi – Jembatan Semanggi – rumah. Berangkatnya agak siang jadi pas di Sudirman udah ramai banget. Total larinya berjarak 7 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam lebih, akibat nungguin Nita yang banyakan jalannya dibanding lari. Mana udahannya dia rewel, “Abis ini kita makan apa, Mbak? Bubur ayam, terus mie ayam, terus apalagi ya yang enak…”
 
(—-_______—- “)

 

Begitu sampai rumah sarapan, sarapan, lalu puas-puasin tidur sebelum dijemput Teppy dan Opie. Yeeeesss, rencananya kita mau ke Jak-Japan Matsuri 2013 di Monas. Kalau orang lain ke acara ini mungkin mau liat bandnya, pamerannya, cosplay…..kalau kita mah tetap fokus dengan kegiatan berburu makanan!
 
#rawisuwis
: ))))

 

Takoyaki Rp 10.000,-
Okonomiyaki
Food hunter!
Tiket masuk tahun ini seharga Rp 25.000,- dan pengunjungnya banyaaaak banget. Dicurigai sebagian besar adalah fans JKT48. Asli saking ramenya mau jalan ngelihatin makanan aja susah banget. Ya tapi namanya kita pantang menyerah, akhirnya berhasil juga keliling ngeliatin makanan yang ada. Berhubung penuh banget dan sumpek jadi kita juga nggak lama-lama di situ. Cuma sempat makan Takoyaki, Okonomiyaki dan lihat parade Mikoshi yang termasuk ritual dalam setiap matsuri (festival) yang diadakan oleh masyarakat Jepang.

Mikoshi atau shin’yo (神輿、御輿?) (kuil portabel) adalah tandu yang dihias dengan megah seperti sebuah dan dipercaya dinaiki oleh objek pemujaan atau roh dari kuil Shinto di Jepang. Pada penyelenggaraan matsuri, mikoshi diusung beramai-ramai di pundak oleh para penganut, dan dibawa berpawai keliling.(sumber dari wikipedia).

 

 

 

Puas dan (nggak terlalu) kenyang di Jak-Japan Matsuri, kita pun mutusin buat cabut karena udah nggak betah saking panasnya. Kelar dari sini, Teppy dan Opie lanjut pijet sementara gue pulang. Benar-benar puas weekend ambisius kali ini, terwujud semua untuk urusan makanan sampai perut kenyang dan hati riang!
(Visited 73 times, 1 visits today)
 
Share it:
Posted in Asian Food, culinary, Friendstuff, Indonesian Food, Sports and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *